Dexter: Season One Review (The Best Crime, Horror, Thriller TV Series I’ve Ever Seen)

dexter-dexter-369389_1280_1024

Genre

Format: Serial drama

Developed by: James Manos, Jr.

Starring

Percaya atau tidak, belakangan ini saya disibukkan atau bisa disebut ketagihan dengan serial yang keluar tahun 2006 silam. Betul, saya ketinggalan banyak atau bisa disebut telat menonton serial keren yang satu ini. Serial tersebut berjudul Dexter, sebuah serial yang ber-genre crime dicampur dengan thriller, horror, detective plus sedikit humor menjadikan Dexter sebagai serial favorit saya di genre non drama comedy.

Sampai detik ini, Dexter sudah menginjak season keenam yang sedang berjalan dan terus mendapat banyak pujian serta penghargaan-penghargaan yang datangnya dari ajang-ajang bergengsi seperti Emmy Awards serta Screen Actors Guild Awards. Serial favorit Slyvester Stallone ini memang berhasil menyuguhkan suatu tontonan tentang serial killer yang brutal tapi juga cerdik.

Dexter Morgan (Hall) adalah seorang ahli forensik di kepolisian Miami, tapi uniknya, profesi Dexter berubah ketika hari berganti malam. Ya, ketika malam hari menjelang, Dexter berubah menjadi serial killer yang hobi memutilasi korbannya. Tapi korban pilihan dexter tidak sembarangan, hanya orang-orang bejat dan jahat yang menjadi korbannya, sesuai dengan ajaran ayah yang mengadopsi dirinya sewaktu kecil yaitu Harry (Remar). Dexter lebih suka menyebut ajaran ayahnya dengan code of harry.

Selain Dexter, ada adiknya yang sama-sama bekerja di kepolisian yaitu Debra Morgan (Carpenter). Sayang sekali, yang tahu siapa Dexter sebenarnya hanyalah ayahnya yang sudah lama meninggal. Maka bahu membahu bersama Debra, Dexter terus memecahkan banyak kasus pembunuhan di miami tapi tetap tidak lupa membunuh para penjahat yang meninggalkan banyak korban di pagi hari.

Season pertama film ini begitu hebat. Serius, hanya dengan 12 episode per season-nya dan durasi sekitar 50 menit per episodenya, Dexter berhasil menyuguhkan satu season yang benar-benar gemilang nan brutal. Dimana garis besar cerita di season pertama adalah, Dexter sang serial killer harus berhadapan dengan serial killer lain yang sedang menjadikan Miami sebagai tempat bermainnya. Serial killer tersebut diberi julukan the ice-truck-killer, dimana korban-korbannya selalu dimutilasi dengan rapih tanpa meninggalkan setetes darah sama sekali di TKP seperti habis dikeluarkan dari freezer kulkas besar.

Oleh karena itu Dexter merasa tertantang untuk menyelesaikan kasus tersebut sekaligus mencari tahu siapa teman bermainnya yang baru dalam dunia pembunuhan dan mutilasi. Dan percaya atau tidak, season satu ini ditutup dengan banyak twist dan cerita asal muasal mengapa Dexter menjadi seperti sekarang ini. Ya, formula tersebut berhasil membuat saya terus menatap layar kaca karena makin penasaran tiap episodenya.

dexterit

Penampilan Michael C. Hall dalam memerankan seorang Dexter yang berkpribadian ganda bisa dibilang wajib mendapat standing ovation dari seluruh penonton setianya. Bagaimana tidak, karakter Dexter yang sebenarnya terbilang psycho berhasil diperankan dengan sangat berbeda oleh Hall, tidak terlihat psycho tapi kadang kocak tapi bisa menjadi benar-benar brutal jika situasi memungkinkan.

Well, Dexter yang sebenarnya dalam dunia nyata adalah suami dari Jennifer Carpenter yang memerankan Debra alias adiknya dalam film ini berhasil menyuguhkan suatu petualangan seorang psycho yang benar-benar membuat penonton kadang-kadang bisa menjadi simpati pada karakter yang sebenarnya kejam ini.

Selain Hall, penampilan para karakter lainpun bisa dibilang membantu banyak sehingga membuat serial ini makin asyik untuk ditonton. Ada kerabat Dexter di divisi forensik yaitu Masuka (Lee), Angel (Zayas), sersan yang curiga pada Dexter, Doakes (King) dan letnan yang sangat mengagumi Dexter, Laguerta (Velez). Selain itu pacar Dexter seorang janda beranak dua yaitu Rita (Bennett) diplot sebagai penyeimbang hidup Dexter yang mempunyai banyak sisi gelap. Terakhir, jangan lupakan penampilan kuat James Remar dalam memerankan ayah Dexter. Walau hanya muncul selintas saja ketika Dexter mengingat-ngingat kembali ajaran ayahnya, peran Remar benar-benar berpengaruh banyak pada keseluruhan serial ini.

Apa boleh dikata, bagi anda yang suka serial ber-genre crime, tidak ada salahnya mencoba serial yang asal mulanya diputar di channel Showtime hingga CBS ini. Selain menawarkan pengalaman membunuh dengan rasa yang berbeda. Jalinan cerita dalam film ini bisa dibilang sangat solid dan kuat. Walau disajikan dengan visual yang unik, seperti jika ada korban mutilasi, bagian badan yang terpotong-potong digantikan dengan boneka dummy, kemudian cipratan darah yang dilukiskan dengan kumparan benang berwarna merah, dan opening scene yang bisa dibilang “metaphor” dari profesi asli Dexter, serial ini tetap menyuguhkan sebuah drama crime yang benar-benar enak untuk ditonton. Jadi, apalagi yang harus saya ceritakan? just enjoy the greatest serial killer in the world, he-he, enjoy guys!

RATING: 4/5

5 thoughts on “Dexter: Season One Review (The Best Crime, Horror, Thriller TV Series I’ve Ever Seen)

  1. awalnya saya gak begitu suka sama dexter, di awal2 rada ngebosenin, pas dipaksa ngelanjutin ternyata seru juga hehe season 2 juga bagus, baru nonton sampe situ nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s