The Last Exorcism (Last Movie Review in 2010)

TLE

SINOPSIS: When he arrives on the rural Louisiana farm of Louis Sweetzer, the Reverend Cotton Marcus expects to perform just another routine “exorcism” on a disturbed religious fanatic. An earnest fundamentalist, Sweetzer has contacted the charismatic preacher as a last resort, certain his teenage daughter Nell is possessed by a demon who must be exorcized before their terrifying ordeal ends in unimaginable tragedy.

  • Release Date:August 27th, 2010
  • Starring:

    20 more cast & crew »

  • Director:Daniel Stamm
  • Writer:Huck Botko, Andrew Gurland
  • Studio:Lionsgate
  • Genre:Horror, Thriller
  • Masih ingat dengan film berjudul the Blair Witch Project? film yang berkonsep fake documentary atau biasa disebut mockumentary movie. Kalau tidak ingat, saya ganti pertanyaannya, masih ingat dengan film Paranormal Activity yang baru-baru ini muncul sequelnya? Ya, mungkin sebagian besar tahu judul film horor tersebut yang sukses menggunakan konsep mockumentary. Entah latah atau tidak selain sequel Paranormal Activity yang masih menggunakan resep sama dengan film pertamanya, di tahun 2010 ini hadir juga film yang mengikuti gaya mockumentary, film tersebut berjudul the Last Exorcism. Betul, the Last Exorcism menyajikan ritual pengusiran setan seperti film pendahulunya the Exorcist, tapi kali ini hadir dengan gaya mockumentary, seolah-olah kejadian yang berlangsung di film ini direkam oleh kameramen amatiran dan terjadi secara nyata.

    Beruntung the Last Exorcism hadir di tahun ini. Setelah kita dibius oleh kedatangan monster mengerikan di Cloverfield, the Last Exorcism menghadirkan nuansa horor mockumentary yang lumayan fresh alias tidak boring seperti Paranormal Activity. Ceritanya pun sederhana, seorang pendeta muda Cotton Marcus (Fabian) berkesempatan untuk mendatangi salah satu keluarga yang meminta bantuannya untuk mengusir setan. Keluarga tersebut adalah keluarga Sweetzer, keluarga kecil yang terdiri dari seorang ayah, yaitu Louis (Herthum) serta kedua anaknya yaitu Caleb (Jones) dan Nell (Bell). Kebetulan juga Cotton sedang membuat film dokumentasi tentang dirinya sebagai pendeta yang gemar melakukan ritual pengusiran setan.

    Masalahnya tidak semua orang tahu bahwa Cotton sendiri tidak percaya dengan ritual pengusiran setan apalagi gejala kesurupan, ia lebih percaya pada sains. Gejala kesurupan adalah gejala kejiwaan yang bisa disembuhkan dengan pengobatan modern menurut dirinya, tapi karena ritual pengusiran setan ini adalah salah satu mata pencahariannya, mau tak mau cotton agak “memelintir” profesinya tersebut. Berbekal keahliannya, Cotton selalu berpura-pura dalam ritual pengusiran setannya. Tapi yang tidak ia ketahui adalah, kejadian yang menimpa keluarga Sweetzer khusunya Nell yang kesurupan bukanlah gejala kejiwaan semata. Diikuti dua orang temannya, cotton mulai meliput ritual pengusiran setan yang dilakukan di kediaman Sweetzer. Maka teror pun dimulai.

    Sejak awal film ini dimulai kita akan disuguhkan cerita-cerita biasa tentang kehidupan Cotton dan keluarganya. Bagaimana Cotton melakukan dakwahnya dan disukai orang-orang di lingkungannya. Sampai waktunya Cotton pergi ke rumah keluarga Sweetzer yang terpencil, situasi menyenangkan yang anda saksikan di awal film akan berubah menjadi mengerikan. Genre mockumentary memang genre paling ampuh dalam membuat bulu kuduk penonton merinding, bagaimana tidak? Kejadian yang tersaji di film ini seolah-olah nyata dan memang terekam secara langsung oleh orang yang bersangkutan. Akting para aktornya pun alami tidak berlebihan sehingga membuat film ini makin terasa nyata.

    Belum lagi penampakan Nell Sweetzer yang diperankan dengan sangat mengerikan dan meyakinkan oleh Ashley Bell membuat alur film ini makin menakutkan. Salut untuk Ashley Bell, karena menurut saya pribadi akting dia memang paling total, jangan lupakan Patrick Fabian yang sama-sama total memerankan pendeta Cotton, pendeta yang tidak percaya dengan hal-hal berbau mistis sampai akhirnya dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dijamin sepanjang film ini Anda akan terus memantau apa yang terjadi sampai kaset rekamannya habis. Jangan lupakan sedikit twist di akhir film ini. Nampaknya sang sutradara Daniel Stamm tahu betul membuat aura film ini menjadi makin menakutkan. Apalagi diproduseri oleh Eli Roth, rajanya film sadis. Membuat film ini tidak kalah menakutkan dengan Paranormal Activity.

    Overall, untuk sebuah film mockumentary, the Last Exorcism bisa jadi pendamping Paranormal Activity 2 yang sama-sama mendulang kesuksesan di tahun ini. Walau tidak sepopuler Paranormal Activity, yang jelas bagi saya, the Last Exorcism memberikan pengalaman baru dalam menonton ritual pengusiran setan secara langsung dan tidak membosankan seperti Paranormal Activity. Well, just enjoy the exorcist, and beware the twist!

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s