Requiem for a Dream

RFAD

SINOPSIS: Drugs. They consume mind, body and soul. Once you’re hooked, you’re hooked. Four lives. Four addicts. Four failures. Doing their best to succeed in the world, but failing miserably, four people get hooked on various drugs. Despite their aspirations of greatness, they succumb to their addictions. Watching the addicts spiral out of control, we bear witness to the dirtiest, ugliest portions of the underworld addicts reside in. It is shocking and eye-opening but demands to be seen by both addicts and non-addicts alike.

  • Release Date:October 27th, 2000
  • Starring:

    20 more cast & crew »

  • Director:Darren Aronofsky
  • Writer:Hubert Selby Jr., Darren Aronofsky
  • Studio:Artisan Entertainment
  • Genre:Crime, Drama
  • Sudah tidak terhitung ada berapa film yang mengetengahkan tema dampak bahayanya obat-obatan terlarang bagi tubuh kita. Trainspotting bisa disebut salah satu film yang mengetengahkan tema tersebut, film arahan Danny Boyle tersebut menjadi salah satu film yang memorable sampai saat ini. Trainspotting memberikan gambaran bahwa narkoba hanya akan membuat kehidupan menjadi lebih runyam saja. Empat tahun setelah Trainspotting rilis, muncul satu film yang lagi-lagi memorable sampai saat ini dan sama-sama mengetengahkan tema drugs addict, film tersebut berjudul Requiem for a Dream, film garapan Darren Aronofsky ini memberikan gambaran yang lebih eksplisit dan lebih gila dari Trainspotting dalam mengekspos orang-orang yang kecanduan obat-obatan terlarang.

    Uniknya Aronofsky tidak melulu menyorot penggunaan obat-obatan terlarang layaknya heroine dan cocaine, tapi juga obat konvensional yang dipakai di dunia kedokteran ikut menjadi sorotan di filmnya ini. Ya, betul, Aronofsky berhasil menyajikan makna “kecanduan” lebih dalam dan detail, heroine dan cocaine bukanlah satu-satunya obat yang bisa merusak kehidupan seseorang, obat diet, obat pelangsing dan semacamnya pun dapat berubah menjadi “heroine” jika si pengguna obat tersebut sudah terobsesi dengan penampilan dirinya agar menjadi lebih baik. Oleh karena itu, dengan gamblang Aronofsky menyajikan sebuah film bertema drugs addict terbaik versinya, dan tidak bisa dipungkiri, Requiem for a Dream memang film terbaik yang pernah dibuat Aronofsky.

    Harry (Leto) dan Tyrone (Wayans) adalah dua orang pemuda yang sudah kecanduan narkoba dalam waktu yang lama, bukan hanya itu, pacar Harry, Marion, sama-sama kecanduan barang haram tersebut. Dilain pihak ada Sara Goldfarb (Burstyn) ibunda Harry yang tinggal sendiri di rumahnya, hanya ditemani satu set TV kesayangannya dan acara favoritnya, Sara menjadi seorang wanita tua yang banyak menyimpan harapan kosong untuk bisa tampil di acara TV, tapi tidak lama kemudian harapan tersebut datang, Sara berkesempatan tampil di TV, sambil menunggu saat itu tiba, ia berserikeras untuk memakai baju favoritnya, gaun merah yang dipakainya ketika Harry diwisuda, tentu saja hal tersebut sudah berpuluh puluh tahun silam terjadi, tubuh Sara sudah tidak selangsing dulu, maka ia pun mengkonsumsi obat diet demi menjadikan tubuhnya langsing kembali agar bisa tampil di acara TV favoritnya yang entah itu kapan akan berlangsung.

    Dua cerita diatas adalah plot utama dari film ini, kehidupan Harry, Tyrone dan Marion bersinggungan dengan kehidupan Sara Goldfarb yang tidak lain masih ibu kandung Harry sendiri. Benang merah dari kisah mereka adalah, mereka sama-sama kecanduan obat, dimana Harry dkk sudah menjadi pecandu obat yang parah tidak jauh berbeda dengan Tyrone dan pacarnya, Marion. Sementara ibunya Harry, Sara, makin terobsesi dengan badan langsingnya seperti puluhan tahun silam, maka Sara pun sama-sama menjadi “pecandu” obat diet yang tidak terlihat bahaya di awal, tapi sebenarnya sangat berbahaya jika dikonsumsi terus menerus.

    Aronofsky membuat film ini makin kelam dan depresif. Bagaimana tidak, semua halusinasi yang orang alami ketika dibawah pengaruh obat-obatan bisa terlihat sangat mengerikan, bahkan pengaruh obat diet pun bisa sangat fatal jika dikonsumsi berlebihan. Obsesi terhadap obat-obatan dan kehidupan yang lebih baik yang dialami semua karakter di film ini digambarkan dengan sangat ironis. Harry dan Marion hanya ingin hidup bahagia, tapi mereka hidup dari profesi Harry dan Tyrone yang menjadi bandar narkoba kelas teri, sementara Sara hanya ingin menjadi wanita yang dikenal semua orang di TV, agar bisa memberitahu dunia bahwa hidupnya bahagia walau sudah ditinggal mati suaminya. Ironis, hanya itu satu kata yang bisa saya ucapkan ketika melihat film ini.

    Hubungan ibu dan anak yang terlihat manis diluar tapi pahit di dalam benar-benar terasa menyakitkan. Harry dan Sara tidak ubahnya dua orang yang sama-sama memimpikan kehidupan yang lebih baik tapi dengan cara yang salah. Scoring musik dari Clint Manssel dan Kronos Quartet makin menambah kesan suram film ini. Ya, film ini benar-benar film yang harus anda tonton! wajib! Semua obat pun bisa jadi racun jika tidak dikonsumsi dengan benar, apalagi heroine atau cocaine yang benar-benar racun.

    Akting dari Ellen Burstyn sebagai Sara Goldfarb mungkin bisa dibilang yang paling total di film ini. Kecanduan dan obsesinya akan obat diet dan kelangsingan tubuhnya disajikan dengan sangat meyakinkan, miris, menyedihkan, menyakitkan, susah untuk digambarkan. Sementara Jared Leto, Marlon Wayans dan Jennifer Connelly pun tidak kalah total memerankan orang-orang yang tersakiti akibat barang haram tersebut.

    Overall, film yang diadaptasi dari novel yang dikarang oleh Hubert Selby Junior ini benar-benar tidak mengecewakan, hampir dua jam saya merinding sekaligus ikut sedih atas apa yang terjadi pada kisah lintas generasi yang sama-sama amburadul ini. Semua itu terjadi karena satu hal dan satu harapan saja. Ya, betul, semua orang pasti bermimpi demi kehidupan yang lebih baik, tapi bagaimana caranya kita meraih mimpi itu tidak selamanya mudah dan indah seperti mimpi-mimpi kita. Well, enough said, just enjoy this masterpiece from Darren Aronofsky.

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s