Alangkah Lucunya Negeri Ini

 

"Lucu" Sekali Memang

memang negeri ini sangat lucu, oleh karena itu, hal “lucu” ini yang ingin diangkat oleh opa deddy mizwar ke sebuah film yang banyak menggambarkan kelucuan kelucuan yang terjadi di negeri kita tercinta ini, well, mungkin tidak usah saya beri tahu kelucuan apa yang dimaksud di film yang berjudul alangkah lucunya negeri ini, lucu sekaligus miris, karena film ini benar benar menggambarkan keadaan negeri kita yang kata orang adalah negeri yang kaya raya, yang kata orang negeri kita adalah negeri yang makmur, tapi nyatanya adalah? yah kita tahu sendirilah.

film ini dimulai dengan cerita seorang pemuda bernama muluk (rahadian) yang sudah menganggur selama dua tahun, padahal dia adalah sarjana manajemen, dan sudah tidak terhitung berapa pekerjaan yang muluk lamar tapi tidak ada hasilnya. pasrah karena keadaan, tiba tiba muluk mempunyai ide ketika melihat seorang pencopet di pasar, yap, muluk kemudian mengikuti copet tersebut, copet yang bernama komet (putra) muluk ikuti hingga ke markas para pencopet yang dipimpin oleh jarot (pakusadewo) alih alih muluk malah menawarkan proposal kerjasama dengan para pencopet itu, agar muluk yang mengatur keuangan dari hasil mencopet, sehingga di masa depan para pencopet itu akan berhenti dan mempunyai pekerjaan lain yang halal daripada mencopet yang notabene haram.

dilain tempat ayah muluk yaitu pak makbul (mizwar) dan haji sarbini (mihardja) serta haji rahmat (rahardjo) sibuk berdiskusi bahwa pendidikan itu adalah hal penting, tapi haji sarbini selalu menyanggah toh yang berpendidikan belum tentu sukses, terbukti muluk yang selalu dibandingkan dengan anak anak haji sarbini yang hanya lulusan SMA tapi sudah bisa punya bisnis sendiri bahkan naik haji. waktu terus berlalu, muluk makin mantap dalam mengelola keuangan para pencopet tanpa diketahui keluarganya, melihat usahanya makin maju muluk diam diam mengajak teman temannya pipit (bravani) dan samsul (dahlan) yang sama sama belum bekerja padahal mereka juga sarjana untuk mengajari pengetahuan umum dan agama kepada anak anak yang berprofesi mencopet ini, dengan harapan jika nanti mereka sudah mempunyai pekerjaan halal, maka perilaku buruk mereka selama mencopet pun bisa dilupakan. semua rencana terlihat seperti akan berjalan lancar, hingga suatu saat ayah muluk dan para orang tua teman muluk mengetahui sebenarnya apa yang dikerjakan muluk, pipit beserta samsul, dan ketika itulah moralitas dipertanyakan, muluk hanya ingin para pencopet ini mendapat hidup yang lebih baik di masa depan dengan sedikit demi sedikit menghilangkan kebiasaan mencopet mereka, tapi ayah muluk menganggap tindakan muluk tersebut adalah salah dan haram hukumnya.

 

Trio Haji

hal diatas sebenarnya hanya seperti pengantar atau sebuah katalis yang memberikan gambaran akan situasi sebenarnya di negeri kita tercinta ini, dimana para pencopet disini mewakili rakyat kita yang menderita karena kemiskinan, sementara muluk dan teman temannya yang jobless menggambarkan dengan sangat jelas susahnya mendapat pekerjaan di negara kita yang kata orang kaya raya ini, tidak peduli pendidikan mereka setinggi apapun, oleh karena itu sindiran haji sarbini di sepanjang film ini sangat mengena, pendidikan itu tidak penting! tapi dimata pencopet yang diajari pendidikan oleh muluk, pipit serta samsul menganggap pendidikan itu sesuatu yang penting, karena dengan pendidikan orang orang justru banyak yang menjadi pencopet kelas kakap (baca: koruptor), yap, deddy mizwar benar benar menyindir negara kita ini dengan sangat gamblang, bukan hanya masalah kemiskinan dan pendidikan saja tapi juga masalah masalah lain yang terlihat sepele tapi sangat krusial, seperti guyonan siapa yang menentukan halal dan haram di indonesia, hehe, anda tahu sendirilah.

disuguhkan selama 90 menit lebih, alangkah lucunya negeri ini menyajikan drama satire yang sangat menarik untuk diikuti, apalagi kita sebagai orang indonesia, pasti akan sangat merasa tersindir sekali oleh  sindiran sindiran di film ini, ditambah sepanjang film banyak menyuguhkan pemandangan pemandangan yang kontras, dimana gedung gedung tinggi dan mewah berdiri tapi tidak jauh dari situ, daerah kumuh selalu melengkapi pemandangan gedung gedung tinggi tersebut, jauhnya kesenjangan sosial di negeri ini disajikan dengan sangat “indah” walau tidak secara langsung. film ini juga mengajak kita untuk berpikir dimana melakukan sesuatu yang benar belum tentu benar di mata orang lain, hal yang dilakukan muluk, padahal terbilang mulia pun tentu saja terlihat salah di mata ayahnya sendiri, yap, yang ingin dilakukan muluk hanya untuk membuat perubahan yang berarti dan masa depan yang cerah bagi para copet itu, dengan cara merubah mereka menjadi pedagang asongan, sesuatu yang lebih mulia walaupun penghasilannya jauh lebih sedikit daripada copet, tapi at least yang mereka lakukan itu halal dan jauh lebih baik daripada mencopet yang notabene salah dan haram hukumnya seperti kata ayah muluk.

halal dan haram adalah sesuatu yang sudah sangat kabur batasannya di negeri ini, copet dan korupsi adalah contoh yang sangat sederhana, dan hal tersebut juga yang disampaikan di film ini, jika copet salah, mengapa korupsi terbilang sudah biasa di negeri ini? apa kata dunia kalo kata nagabonar, hehe. overall film yang katanya sudah lolos seleksi awal untuk ajang academy award alias oscar ini harus ditonton oleh anda yang ngakunya orang indonesia tulen, hehe, mengapa? karena dengan menonton film ini kita disuguhkan banyak realita pahit tentang negeri ini dari mata seorang deddy mizwar, dan hal tersebut disajikan dengan sangat menarik dan kadang kadang menggelitik, yep, drama satire ini adalah tontonan wajib bagi para warga indonesia tercinta, apalagi para pejabat diatas sana. akhir kata, anda tidak boleh lewatkan film ini, dan doakan semoga film ini lolos terus hingga seleksi akhir di ajang oscar, sehingga jika nanti lolos setidaknya masyarakat dunia internasional tahulah sedikit realita yang sebenarnya terjadi di negeri ini, bukan hanya yang bagus bagusnya saja, sekali kali harus diperlihatkan sisi lain juga bukan, hehe, well enjoy the drama! ironic? you’ll know then😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s