Kisaragi


Who's The Suspect?

SINOPSIS: One year after the suicide of C-list model Kisaragi Miki, five of her fans come together for a commemorative meeting; fan club leader Iemoto, Oda Yuji, “Snake”, Yasuo, and “Strawberry Girl”. After meeting each other for the first time, they reminisce about their idol, wondering how someone so bright and happy could have possibly taken her own life. As they discuss her death, the facts, and evidence, they slowly come to the realization that her death didn’t occur they way they thought it did. The more they talk, the more the case takes shape in their minds, and the closer they come to the truth. Written by Ginny

Cast
Shun Oguri – Iemoto
Yusuke Santamaria – Oda Yuuji
Keisuke Koide – Snake
Muga Tsukaji – Yasuo
Teruyuki Kagawa – Strawberry Girl
Kanako Sakai – Kisaragi Miki
Jo Shishido

Release Date: 16 June 2007 (Japan)
Genre: Comedy | Mystery

sebuah film yang lagi lagi memakai formula ala 12 angry men dan exam, yaitu bersetting di satu ruangan dan diisi oleh lima orang pemeran utama. mereka berlima adalah para penggemar seorang idol di jepang, idol tersebut bernama kisaragi miki, dan kisaragi miki telah meninggal setahun yang lalu karena bunuh diri, lalu mereka berlima pun memutuskan untuk bertemu mengenang setahun meninggalnya kisaragi miki, mereka sendiri semua berkenalan dari ruang chat online para penggemar kisaragi, di saat mereka berlima mengadakan pesta untuk mengenang kisaragi miki yang diadakan oleh guru (oguri) tiba tiba seorang diantara mereka bernama oda yuuji (santamaria) memulai wacana tentang perihal kematian kisaragi setahun yang lalu, oda yakin bahwa kisaragi tidak meninggal karena bunuh diri di apartemennya yang terbakar melainkan karena dibunuh seseorang! maka satu persatu dari yang hadir di ruangan kecil tersebut mulai berargumen tentang kematian kisaragi setahun yang lalu, satu persatu mulai memaparkan darimana mereka tahu kisaragi dan mengapa mereka menyukai kisaragi, tapi lama lama tiap argumen malah saling menyudutkan antar lima orang yang hadir di ruangan tersebut, dan uniknya film ini tidak menegangkan ala exam melainkan berunsur komedi yang lumayan konyol ala jepang.

semakin lama mereka berargumen maka mereka pun saling menunjukan hipotesis kematian kisaragi setahun yang lalu dan diluar dugaan mereka seperti melakukan rekonstruksi ulang atas kematian kisaragi walaupun hanya dalam imajinasi mereka, walau terdengar konyol memang tapi cerita di film ini benar benar mengalir dan membuat saya penasaran terus karena ingin tahu bagaimana kisaragi mati Continue reading

Exam


The Psychological War!

SINOPSIS: Eight talented candidates have reached the final stage of selection to join the ranks of a mysterious and powerful corporation. Entering a windowless room, an Invigilator gives them eighty minutes to answer one simple question. He outlines three rules they must obey or be disqualified: don’t talk to him or the armed guard by the door, don’t spoil their papers and don’t leave the room. He starts the clock and leaves. The candidates turn over their question papers, only to find they’re completely blank. After the initial confusion has subsided, one frustrated candidate writes ‘I believe you should hire me because…,’ and is promptly ejected for spoiling. The remaining candidates soon figure out they’re permitted to talk to each other, and they agree to cooperate in order to figure out the question: then they can compete to answer it. At first they suspect the question may be hidden in their papers like a security marker in a credit card, and they figure out ways to change their environment to expose the hidden words. But light, liquids and other plans all come to naught. Soon enough, the candidates begin to uncover each other’s background, prejudices and hidden agendas. Tensions rise as the clock steadily descends towards zero, and each candidate must decide how far they are willing to go to secure the ultimate job.

sebuah film untuk menjadi  film thriller tidak melulu harus berhadapan dengan pembunuh, pemerkosa, psikopat maupun setan gentayangan, nah itulah yang berusaha ditawarkan oleh film exam ini, dengan cerdiknya meracik ujian masuk suatu perusahaan besar menjadi sangat menegangkan, hanya bersetting di satu tempat saja, tidak kemana mana, yap, layaknya 12 angry men yang saya bahas sebelumnya, exam berhasil membuat mata saya menatap monitor selama kurang lebih 90 menit! sederhana dan brillian, mungkin kata kata itulah yang cocok buat film ini, bisakah anda membayangkan bagaimana tindak tanduk ke 8 kandidat yang bertarung secara psikologis demi mendapatkan pekerjaan impian yang mereka inginkan.

dengan embel embel 80 minute, 8 candidates, 1 question and no answer (jangan khawatir itu bukan spoiler, hehe) film ini berhasil menyuguhkan sajian thriller cerdas. tanpa mengetahui nama para karakter yang ada di film ini, cukup dengan nickname yang menyentil seperti white (kulit putih), black (orang kulit hitam), brown (orang asia), blonde (wanita berambut pirang), dark (wanita berambut hitam), brunette (wanita brunette tentunya) dan deaf (pria yang cuek bebek di sepanjang film ini) dan tidak lupa wanita chinese yang sudah gugur di awal ujian atau ketika film ini baru dimulai, kenapa dia gugur? anda akan tahu Continue reading

12 Angry Men


12 Angry Juror!

SINOPSIS: Sidney Lumet’s directorial debut is a snapshot of the American judicial system in action. Twelve average New York males convene in a very small jury room on a very hot day in order to reach a… Sidney Lumet’s directorial debut is a snapshot of the American judicial system in action. Twelve average New York males convene in a very small jury room on a very hot day in order to reach a verdict in a murder trial. Almost everyone wants to vote guilty and get on with their lives except for Juror No. 8 (Henry Fonda), a conscientious citizen who insists on establishing reasonable doubt. Arguments are made, cigarettes are smoked, murder weapons examined, diagrams drawn, and prejudices revealed. Firm opinions weaken and reverse; voices get raised, the clock ticks, and a ghetto kid’s life hangs in the balance. Lumet’s direction and camerawork steadily builds pressure into the plot. Things start out casual, but wind up so close and tight you can count the pores on the actors’ noses. Fonda is good in a role well-suited to his extra-large sense of human dignity but the stealth giant in this actors dozen is the ferocious Lee J. Cobb. Jack Klugman, E.G. Marshall, Martin Balsam, Ed Begley, and Jack Warden play some of the other jurors, and a better assemblage of grizzled method actors shouting at each other won’t likely come again. 12 ANGRY MEN was originally written for television, it is a true classic of the anti-McCarthy message era, and is not to be missed.

Runtime: 1 hr 36 mins

Genre: Dramas

Starring: Henry Fonda, Lee J. Cobb, Martin Balsam, Jack Klugman, Jack Warden, E.G. Marshall, Ed Begley

Director: Sidney Lumet

Director: Sidney Lumet
Screenwriter: Reginald Rose
Producer: Henry Fonda, Reginald Rose
Composer: Kenyon Hopkins

salah satu film yang melegenda, film yang rilis tahun 1957 ini tetap saja masih memikat hati sampai detik ini, saya tergolong orang yang terpikat tersebut, terhipnotis dengan kesederhanaan dan keeleganan film ini, sidney lumet selaku sutradara benar benar menyajikan drama yang intens sekaligus berkelas, dengan latar satu ruangan terus terusan dari awal hingga akhir cerita, film ini benar benar tidak membuat saya bosan sama sekali, benar benar hidup berkat dialog dialog  cerdas yang terjadi antar para juri yang sedang berusaha keras untuk mengambil keputusan suatu kasus yang sedang berjalan. amerika adalah salah satu negara yang memakai sistem hukum anglo saxon, dimana keputusan tertinggi bukan di tangan hakim melainkan para juri yang menyaksikan jalannya suatu persidangan, maka tugas para juri ini bisa dibilang termasuk berat, karena harus menyatukan pendapat dan kesimpulan mereka masing masing hingga menjadi satu suara bulat yang menentukan keputusan suatu persidangan.

12 angry men dengan gamblang menyajikan perdebatan sengit diantara 12 juri yang hadir di sebuah sidang yang melibatkan seorang remaja yang menjadi tersangka pembunuhan ayahnya sendiri, maka ke 12 juri ini harus mengambil keputusan, apakah anak tersebut bersalah atau tidak? pada awal mulanya lebih dari setengah 12 juri tersebut mengatakan bersalah, tapi ada satu orang yang kurang setuju, juri yang tidak setuju diperankan oleh henry fonda, uniknya di film ini para nama juri tidak pernah disebutkan sehingga hanya tahu berdasarkan urutan nomor duduk mereka, juri 1, juri 2 dan seterusnya. juri yang diperankan henry fonda tidak setuju dengan keputusan cepat para juri lainnya bahwa anak tersebut bersalah dan harus dihukum mati, maka dimulailah suatu perdebatan Continue reading

(Have You Ever Consider) Rampage?


The Unpredictable Uwe Boll

SINOPSIS: A small town misanthrope builds a bulletproof Kevlar suit and goes on a merciless killing spree in this visceral thriller from director Uwe Boll (HEART OF AMERICA, POSTAL). Bill Williamson (Brendan Fletcher) is frustrated. Well into his 20s but still aimless, the only time Bill leaves his parent’s house is to hang out with his best friend Evan (Shaun Sipos). But Bill’s mom (Lynda Boyd) and dad (Matt Frewer) are getting tired of supporting their freeloading son, and begin turning up the pressure on him to finally find his own place to live. When Bill’s boss refuses to give him a raise, something snaps deep inside. Bill is going to send a message to society, and society isn’t going to like what he has to say. By the time the gunfire starts there’s no turning back, and even the innocent won’t be safe as Bill embarks on a grim mission to cleanse this world one bullet at a time.

Runtime: 85 mins

Genre: Action/Adventure

Starring: Brendan Fletcher, Matt Frewer, Shaun Sipos

Director: Uwe Boll
Screenwriter: Uwe Boll
Composer: Jessica De Rooij

apa yang terjadi dengan uwe boll? terkenal dengan film film adaptasi gamenya yang banyak dicela oleh seantero penikmat film di dunia tidak membuatnya berhenti berkarya, dan kali ini, uwe boll diam diam menggebrak para penikmat film dengan karya terbarunya yang non-adaptasi game, dan tebak, film itu banyak dipuji, dan saya pun menjadi penasaran, karena karya terakhirnya yang saya tonton yaitu dungeon siege agak mengecewakan saya, padahal itu adalah game favorit saya sepanjang masa. dengan judul rampage dan cover yang terlihat biasa biasa saja, ternyata benar kata orang orang! rampage untuk takaran uwe boll adalah film yang bagus! jauh lebih bagus dari film film terdahulunya, dan disini artian bagus adalah benar benar bagus! serius! walaupun film ini tidak begitu booming, anda harus saksikan rampage karya uwe boll ini, benar benar karya yang langka.

dengan cerita pembantaian yang dilakukan oleh seorang anak muda berusia 23 tahun, cerita ini dimulai. pembantaian? sudah biasa bukan di film film slasher, tapi di rampage seorang remaja bernama bill (fletcher) yang terlihat seperti remaja normal dan biasa biasa saja tiba tiba mempunyai inisiatif untuk menghabisi setengah warga kotanya, dimulai dengan menghancurkan kantor polisi dengan “car bomb” rakitannya sendiri, padahal sehari sebelum pembantaian dilakukan bill tidak melakukan hal hal yang aneh, hanya chit-chat dengan temannya evan (sipos) mengenai kehidupan yang sudah makin runyam di muka bumi ini, sosial, politik, global warming dan sebagainya. keesokannya bill goes berserk! membuat baju armor sendiri yang full kevlar, bill ke tengah kota dan membabi buta membantai Continue reading

It Might Get Loud!


Three Virtuoso of Guitar

SINOPSIS: Rarely can a film penetrate the glamorous surface of rock legends. It Might Get Loud tells the personal stories, in their own words, of three generations of electric guitar virtuosos The Edge (U2), Jimmy Page (Led Zeppelin), and Jack White (The White Stripes). It reveals how each developed his unique sound and style of playing favorite instruments, guitars both found and invented. Concentrating on the artists musical rebellion, traveling with him to influential locations, provoking rare discussion as to how and why he writes and plays, this film lets you witness intimate moments and hear new music from each artist. The movie revolves around a day when Jimmy Page, Jack White, and The Edge first met and sat down together to share their stories, teach and play. [D-Man2010]

betul, anda tidak salah lihat, ada jimmy page, ada the edge dan ada jack white, gitaris dari tiga generasi yang berbeda, mereka berembuk untuk saling berbagi ilmu tentang gitar listrik andalan mereka masing masing, dimulai dari jack white sang gitaris sekaligus vokalis dari band “irit personil” yaitu the white stripes dan band rock blues the racounters yang tidak peduli dengan merek gitar, karena gitar yang dia gunakan sendiri bisa ditemukan dimanapun bahkan di supermarket ujarnya, white kurang suka dengan suara suara gitar yang makin kesini makin revolusioner karena pemakaian efek efek gitar yang canggih, entah mengapa white lebih menyukai lengkingan dan distorsi gitar yang bising serta minim pengaruh efek gitar. hal tersebut bertolak belakang dengan the edge sang gitaris dari band legendaris U2 yang memang sudah hobinya dalam “mengulik” sound sound gitar yang dihasilkan dari efek efek tertentu, terbukti lagu lagu U2 belakangan ini banyak dihasilkan dari hasil “ulik-ulikannya” the edge dalam menciptakan suaranya, lucunya the edge bicara bahwa lagu lagu U2 yang dianggap soundnya unik didengar ternyata tidak sesusah memainkannya dalam mode akustik sembari memainkan intro dari lagu elevation.

kemudian ada jimmy page, sang gitaris dari supergrup legendaris led zeppelin ini menuturkan bagaimana pencapaiannya bersama bandnya ketika masa itu, susahnya membuat lagu lagu yang menjadi hits sekaligus memorable sampai saat ini, dengan rambut yang hampir 100% sudah berubah warna menjadi putih, jimmy page banyak menceritakan proses pembuatan lagu lagu led zeppelin dan keluh kesahnya menghadapi kritikan media terhadap karya karya led zeppelin yang tidak bisa disebut gampang dalam meramunya, sebut saja lagu lagu seperti black dog hingga stairway to heaven Continue reading

Tone of Evil!


 

The Devil Wears "Stratocaster"

“tahun 1973, saat iblis menghabisi para gitaris di dunia permusikan, hingga kini, arwah mereka masih mencari kebenaran, masih mencari kenyataan…”

itulah kalimat pembuka dari film pendek berjudul tone of evil, film pendek yang naskahnya ditulis, diproduseri, dan disutradarai oleh teman saya sendiri yaitu myrdal. tone of evil merupakan sebuah film pendek berdurasi 20 menit yang mengisahkan iblis yang bersemayam di dalam sebuah gitar, iblis tersebut telah “dijinakan” dan disegel erat erat dengan materai Rp 6000 oleh seorang dukun. selang berapa lama kemudian film berlanjut, mengisahkan seorang pria bernama cahyo yang terpaksa menjual gitar kesayangannya untuk membiayai kuliahnya, padahal cahyo adalah gitaris dari sebuah band bernama the retirement of a role (the retro), melihat tindakan cahyo yang menjual gitarnya, teman teman satu bandnya berusaha untuk membantu cahyo untuk mendapatkan pinjaman gitar. kemudian tak lama kemudian tanpa disengaja, ketika cahyo sedang jalan jalan, cahyo melewati sebuah toko gitar, dia pun tertarik dengan sebuah gitar yang ditawarkan si pemilik toko tersebut, tanpa basa basi setelah adu tawar yang berlangsung sengit, sang pemilik toko akhirnya menyerah dan gitar stratocaster tersebut akhirnya dimiliki cahyo.

cahyo membawa pulang gitar baru yang didapat dengan harga murahnya tersebut dan mulai menyetel gitar barunya tersebut, tapi cahyo merasa risih dengan sebuah materai yang menempel di badan gitar tersebut, maka cahyo pun mencabut materai tersebut. satu hal, cahyo tidak pernah tahu bahwa gitar tersebut adalah gitar dimana sang iblis bersemayam, dan cahyo baru melepaskan iblis tersebut. tak berapa lama kemudian ketika the retro sedang berlatih, cahyo muncul dengan penampilan yang sama sekali berbeda dari biasanya dan nada bicara yang angkuh, setelah cahyo menunjukan riff riff gitar mautnya yang berhasil membuat teman teman satu bandnya tidak berkutik, cahyo memutuskan untuk keluar dari the retro, karena menurut dia band tersebut tidak selevel dengannya sama sekali, teman teman satu band cahyo merasa ada yang tidak beres Continue reading

Green Zone


The "Bourne" is Back!

green zone, film terbaru dari sang pembesut salah satu film bourne trilogy, yaitu paul greengrass, kembali lagi dengan film fast-paced actionnya, dan dibintangi oleh matt damon pula, layaknya reuni dari kisah bourne yang terdahulu, green zone disajikan penuh dengan bumbu bumbu kisah bourne ala greengrass, teknik kamera handheld yang bergoyang, aksi yang cepat, kejar kejaran yang menegangkan ditambah ledakan dimana mana, karena green zone ini mengambil setting di irak, tepatnya tahun 2003 ketika amerika menginvasi irak dengan alasan mencari senjata pemusnah massal atau biasa disebut WMD (weapon of mass destruction). satu lagi film bertema timur tengah yang mengambil sudut pandang lain, tidak melulu “memenangkan” amerika, tapi memberi tahu kepada para penonton ada yang tidak beres dibalik invasi amerika ke irak dan jatuhnya rezim saddam husein, dan greengrass menyajikan semua itu dalam green zone, sebuah film action perang “netral” bahkan memberi sudut pandang lain tentang perang di irak.

dimulai dengan aksi kesatuan chief miller (damon) yang bertugas untuk mencari WMD sebagaimana ditugaskan oleh atasannya di markas pusat yaitu poundstone (kinnear) dan berdasarkan intel yang terpercaya, tapi setelah beberapa percobaan miller dan pasukannya selalu mendatangi lokasi yang kosong melompong, tidak pernah mereka menemukan yang namanya WMD, maka miller mulai meragukan kebenaran intel yang didapatkan oleh poundstone, miller pun berusaha mencari tahu mengapa intel tentang lokasi WMD selalu nihil, tidak ada hasilnya, tapi poundstone selalu ngotot bahwa informasi itu didapatkan dari intel yang terpercaya tapi poundstone tidak pernah memberitahukan siapa intel yang dimaksud, bukan hanya miller saja yang merasa aneh akan informasi dari intel tersebut, ada marty (gleeson) seorang agen CIA yang sama sama gerah melihat kelakuan poundstone yang percaya sepenuhnya pada informasi intel tentang keberadaan WMD tersebut, atau jangan jangan poundstone menyembunyikan sesuatu dari semua pihak. miller pun mencari kebenaran akan sumber dari intel Continue reading

Rammstein “BURN” Rock Am Ring 2010!


sudah lama tidak menanti aksi panggung gila dari rammstein, akhirnya ketika live mereka di rock am ring 2010 beredar tanpa pikir panjang saya langsung menyedotnya tanpa ampun, alih alih bisa mendengarkan seluruh konsernya, ternyata eh ternyata hanya 5 lagu yang bisa saya nikmati dari till lindemann, entah kenapa memang seperti itu hasil downloadannya, well sedih, karena tidak bisa menyaksikan single pussy dari mereka dibawakan secara live, tapi tak apa, semoga ada yang berbaik hati mau mengupload full concert mereka di rock am ring 2010 tersebut. rammstein yang selalu tampil live dengan menghebohkan mengulang kembali hal itu di rock am ring 2010 ini, dengan parade semburan api yang gila gilaan membuat suasana di panggung benar benar “terbakar”, dibuka dengan lagu rammleid till bernyanyi dengan mulut yang bercahaya, entah diisi dengan apa mulutnya tersebut, tapi memang aksi panggung mereka sangat sangat total seperti biasa.

Till Lindemann yang Mengerikan!

kemudian dilanjut dengan lagu yang masih diambil dari album terbaru mereka liebe ist fuer alle da, yaitu ich tu dir weh, pada lagu ini aksi teatrikal dipertunjukan kembali yaitu till lindemann menarik sang keyboardis “waras” christian “flake” lorenz untuk dimasukan kedalam sebuah bak mandi kecil yang ada di panggung, lalu meludahinya (sableng memang!) lalu till pun naik ke sebuah lempengan di atas panggung yang bergerak naik keatas tepat diatas bak tempat flake “ditidurkan”, dengan membawa sebuah ember yang berisi bara api, lalu ketika chorus ich tu dir weh dinyanyikan till seraya menumpahkan “bara api” dari ketinggian kurang lebih 10 meter kedalam bak Continue reading

The A(wesome)-Team!


The Classic is Arrived!

film sukses di masa lalu memang bisa menjadi pendulang pundi pundi uang di masa sekarang, tidak percaya? coba tengok berapa film yang sudah diremake ataupun direboot oleh hollywood dan sukses besar, sudah tidak terhitung, dan masih akan berlanjut beberapa tahun kedepan, sebagai contoh, mungkin anda masih ingat film predator, film legendaris yang dibintangi mega bintang arnold schwarzeneger, film bertema “alien” dan masih menjadi lawan tanding dari trilogi “alien” itu sendiri akan direboot kembali oleh robert rodriguez, betul! film film sukses di masa lalu memang menjadi aset tersendiri bagi industri perfilman hollywood untuk selalu didayagunakan (atau memang sudah tidak ada ide lagi?), lalu dalam bulan ini keluar dua film nostalgia yang diremake kembali, film tersebut adalah karate kid dan the A-team, siapa yang tidak mengenal dua film klasik ini? apalagi the A-team sebagai film serial yang dulu sukses diputar di stasiun televisi swasta kita. karate kid dengan jackie chan plus jayden smith, dan the A-team dengan liam neeson serta bradley cooper, well, film pilihan saya untuk ditonton pertama kali jatuh kepada the A-team nampaknya, lebih memorable dan lebih asyik nampaknya untuk disaksikan di bioskop apalagi setelah melihat trailernya yang penuh dengan ledakan dan spesial efek yang wah! nampaknya tidak mungkin melewatkan remake yang satu ini.

the A-team yang sudah menjadi icon film serial barat terdahulu akhirnya muncul kembali dalam durasi lebih panjang dan 4 aktor baru untuk memerankan para karakternya yang melegenda, ada liam neeson yang memerankan hannibal smith sang perencana jenius yang hobi merokok cerutu, kemudian ada bradley cooper yang memerankan face sang playboy, kemudian ada quinton jackson yang memerankan B.A. baracus karakter berambut mohawk yang legendaris, dan tidak lupa sharlto “wikus” copley yang memerankan murdock sang jenius gila dengan sangat sempurna. bagi anda yang tidak mengikuti serial TV nya terdahulu tidak usah khawatir, the A-team baru ini muncul dengan mereboot kisah terdahulunya, dengan scene awal yang mengisahkan pertemuan 4 rangers ini tapi dengan cara yang keren sekaligus kocak, pertemuan hannibal, face, B.A. dan murdock di scene awal dijamin akan membuat anda tertawa terpingkal pingkal setelah sebelumnya disuguhi aksi yang heboh dan brilian. kemudian cerita pun berlanjut 8 tahun kemudian ketika the A-team yang dipimpin hannibal mendapatkan tugas baru dari atasannya yaitu jendral morrison (mcraney), yaitu merebut kembali cetakan uang dollar amerika yang dimiliki oleh para pengikut saddam hussein Continue reading

The Crazies (“Crazier” Than The Original Version)


The Crazies is Everywhere!

film zombie banyak berevolusi di tahun 2000an ini, sudah tidak terhitung berapa banyak film zombie buatan hollywood maupun non hollywood yang rilis, beberapa bulan kebelakang saya juga banyak mereview film film bertema zombie, mungkin doghouse film zombie british yang paling saya ingat karena kekonyolannya, tapi sekarang saya akan membahas film zombie yang “lahir” karena virus, layaknya resident evil, yaitu the crazies, yang merupakan sebuah remake dari film yang berjudul sama juga (dan konon the crazies yang saya bahas ini lebih baik dari versi pertamanya di tahun 1973). the crazies merupakan film yang memakai formula hampir mirip mirip dengan film resident evil, dimana ada virus yang jatuh di kota kecil dan terpencil bernama ogden marsh. peran utama di film ini dimainkan oleh sang hitman yaitu timothy olyphant yang berperan sebagai sherif di kota kecil tersebut bernama david, selain itu ada istri dari david yaitu judy seorang dokter di kota tersebut yang diperankan oleh radha mitchell, kemudian ada russell sang deputi yang diperankan joe anderson.

david dan russell bertugas seperti biasa di hari yang cerah di ogden marsh, mereka tengah menonton pertandingan baseball yang diselenggarakan di ogden marsh, ketika pertandingan berjalan mereka melihat seorang pria yang ternyata david dan russell kenal juga, pria tersebut bernama rory, salah satu warga ogden marsh, tapi keadaan rory aneh sekali, dia seperti pria yang mabuk tapi membawa senapan, kontan yang hadir di pertandingan baseball tersebut ketakutan, david pun langsung menghampiri rory yang berperilaku seperti mayat hidup, dipanggil panggil rory tetap tidak merespon, lalu ketika rory menaikan senapannya dengan reflek david menembaknya, rory pun tewas. setelah kejadian tersebut david percaya bahwa rory mabuk, maka david menyerahkan mayat rory untuk diselidiki dokter Continue reading